jabaktangan.com


Kampung Pangrita Ulama yang tersembunyi

 



Berdasarkan Silsilah Keluarga setempat dan Cerita rakyatnya, Kampung Japing-Japing adalah Kampung Panrita tersembunyi para Ulama yang masyhur di zamannya.

Fase Pertama:
Kedatangan Raja Bajeng ke.13 di perkirakan pada Tahun 1778 M. yang memiliki banyak nama dengan alasan kejaran komponi Belanda akibat tidak mau tunduk dan bersembunyi disana dia adalah Tuan Sayyid Muhajir Al-Aidid, seorang figur sentral yang menginjakan kaki pertama di kampung ini dijuluki Anrong Guru (Guru Besar). Tokoh ini juga dikenal dengan gelar kerajaan Karaeng Pepea, Karaeng Bajeng ke-13, I Terasa Daeng Ma’lalang, dan I Cokke Manjarungi seorang Ulama dari Laikang/Cikoang dan menjadi Raja Bejeng ke.13 sebelum ke Japing-Japing Pangkep singgah di Kasi kebo lalu beberapa lama lari ke Pa'Rasanganga yang waktu itu belum ada penghuni masih hutan dan banyak Muara sungai dan Bonto-Bonto. Saat ini bernama Kampung Japing-Japing Kelurahan Bontolangkasa Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep. 

Raja Bejeng ke.13 Sayyid Muhajir memiliki banyak istri dan anak. Istri yang paling signifikan dan menjadi pilar penting di Japing-Japing adalah Intan Daeng Riolo, seorang perempuan asli dari Japing-Japing di karuniai anak tiga:

1. Sayyid KH. H. Abdul Asis Jumaleng Daeng Sirua (Tuanta’ DG. Maudu): Ulama besar yang mewarisi semangat perlawanan sang ayah. Ia dijuluki "Bangkasa Kebonna Japing-Japing" (Benteng Perlawanan dari Kampung Japing-Japing) dan kelak menikahi Sitti Khadija (Cucu Raja Bone ke.22)

2. Sayyid KH H. Muhammad Adam Daeng: Tokoh ulama berpengaruh yang memutuskan menetap, wafat, dan dimakamkan di Mekah, menjadi guru bagi keponakannya (KH. Muhammad Shiddiq).

3. Sayyid KH. H. Daeng Maroa: Populer dengan sebutan Petta Imam Japing-Japing, yang menunjukkan peran kepemimpinan spiritual lokal yang diwarisinya.

Fase kedua: 
Raja Gowa ke.28 I Mannawarri I Sumaele Karaeng Bontolangkasa Karaeng Mangasa Sultan Abdul Hadi Tumenanga ri Lambusu'na bersama Panglima perangnya Ince Ahmad iyakamabassung Daeng Mangambei berdarah Melayu Minangkabau serta pasukannya menaiki Perahu Phinisi menyusuri Lautan dan masuk ke Sungai Tallo dan tiba Pa'Rasanganga yang saat itu masih Pa'Rasanganga belum di namakan Kampung Japing-Japing Kelurahan Bontolangkasa Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep lalu mendirikan tenda-tenda pasukan dengan tujuan untuk mengejar serdadu VOC Belanda hingga ke Segeri Pangkep di perkirakan pada Tahun 1779 M. bertahun-tahun melawan kompeni Belanda hingga Wafat bersama Raja Gowa dan Panglima perangnya serta pasukannya di Japing-Japing Pangkep yang saat itu nama Raja Gowa di Abadikan namanya menjadi Kelurahan Bontolangkasa Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep.

Fase Ketiga:
Anak Raja Bajeng Ke.13 bernama Sayyid Abdul Azis dikenal dengan ragam nama dan gelar yang menunjukkan kedalaman pengaruhnya mulai dari Jumaleng Daeng Sirua atau H.Sinalu atau Zaenal Abidin Daeng Mannutungi atau Daeng Cokke Al-Aidid, Imam Guru, Gelar yang paling melekat padanya adalah Tuanta’ Daeng Maudu di Japing-Japing Populer namanya Jumaleng Daeng Siru Bangkasa Keboka ri Japing-Japing. Nama ini banyak sama dengan Ayahnya Tuang Sayyid Muhajir. Tuang Maudu karena beliau yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi Muhammad SAW di Japing-Japing Pangkep.

Kemudian istrinya adalah Sitti Khadija Karaeng Barasa Daeng Riolo Cucu Raja Bone ke-22 bernama La Temmassonge Toappawali Sultan Abdul Razak Matinroe ri Mallimongeng. Memerintah selama seperempat abad 1749 - 1775. Sedangkan Ayah dari Sitti Khadija ini bernama La Barakka Daeng Mala’bang seorang ulama dan penyiar Islam yang juga dikenal sebagai KH.Ahmad Sibawai. La Barakka membawa panji Islam dan kemuliaan darah Bone ke wilayah Pangkep, menjadikannya tokoh sentral dengan gelar kehormatan Katte Lompoa Ri Pagang Pangkep. 

Sayyid Abdul Asis atau Populer Jumaleng Daeng Sirua Bangkasa KeboNa Japing-Japing bersamaan i Sultan Daeng Raja hijrah ke Japing-Japing Pangkep. Namun i Sultani Daeng Raja ini mendiami Japing-Japing Selatan sedangkan Sayyid Abdul Asis (Jumaleng Daeng Sirua Bangkasa KeboNa Japing-Japing ini mendiami bagian Utara hingga di makamkan di sana karena pesan orang tuanya yaitu Raja Bajeng ke.13 Sayyid Muhajir "Saya akan pergi lagi untuk bersembunyi yang tidak ada yang tau identitas saya" tak lain adalah Desa Limbua Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep dan disana membuka perguruan dan memiliki banyak pengikut hingga wafat dan dimakamkan disana. 

Dari pernikahan Jumaleng Daeng Sirua Bangkasa KeboNa Japing-Japing dengan Anak Ulama dari Bone yang berpengaruh di Pangkep bernama Sitti Khadija Karaeng Barasa Daeng Riolo Cucu Raja Bone ke-22 La Temmassonge ia di karuniai anak seorang Ulama yang populer bernama Syekh KH. H. Muhammad Shiddiq.

Syech KH. H. Muhammad Shiddiq yang di juluki (Tuang H. Lompoa) Bin La Barakka Daeng Mala’bang KH. Sibawahi lahir di Kampung Japing-japing Kelurahan Bontolangkasa Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep pada tahun 1830 dan wafat tahun di Desa Kabba Kecamatan Minasatenne pada tahun 1937, dikenal sebagai ulama dengan perjalanan intelektual dan spiritual yang mendalam. Ia menghabiskan 47 tahun di Timur Tengah, khususnya di Mekkah dan Madinah, serta sempat bermukim dan mengajar di Turki dan Maroko. Interaksinya dengan dunia Islam global membekali Syekh Shiddiq dengan wawasan dan kredibilitas tinggi dalam pendidikan serta pembaruan Islam di Indonesia

Syech KH. H. Muhammad Shiddiq ini Asli Japing-Japing Pangkep Misinya bersama iparnya ulama dari Galesong Kabupaten Takalar KH.Muhammad Nur Daeng Matutu dengan misi Suci ke Kendari Pulau Wawoni Sulawesi Tenggara untuk mensucikan kembali di Masyarakat sana karena masih banyak paham Animisme dan mereka berdua berhasil namun Syech KH. H. Muhammad Shiddiq ini kembali ke Kampungnya untuk berziarah ke ibunya kemudian di panggil oleh Pamannya sekaligus gurunya Sayyid KH. H. Muhammad Adam DaengTo Adam Merupakan Ulama berpengaruh dimasanya wafat karena sakit dimakamkan di Mekah menerima misi lagi dari pamannya untuk ke Desa Kabba Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep membuka pengajian disana salah satu murid kesayangannya adalah Andi Mappanyukki Raja Bone 32, hingga Syech KH. H. Muhammad Shiddiq (Tuang H.Lompoa) jatuh sakit kemudian meninggal dan dimakamkan disana.

Namun iparnya ulama dari Galesong bernama KH. Muhammad Nur Daeng Matutu itu masih mengabdikan dirinya di Pulau Wawoni dengan Amanah oleh KH.H.Muhammad Shiddiq (Tuang H. Lompoa) hingga Wafat di sana. 

Sebelum KH. H. Muhmmad Shiddiq (Tuang H.Lompoa) meninggal dialah pencitus nama kampung Japing-Japing sekali Gus melantik Galla atau Gallarang pertama di Japing-Japing ini. Konon sebelum terbentuknya nama kampung ini para pendahulunya mengatakan kampung ini adalah Pa'rasangan (tempat tinggal). Nama Japin muncul setelah I Daeng Ma'lalangi menggali sumur dan menemukan Kerang berbentuk sangat besar yang disebut Japin. Sejak saat itu, wilayah tersebut dikenal sebagai Pa'rasangan Japin dan berubah menjadi sebuah kampung bernama Japing-Japing. 

KH. H. Muhammad Shiddiq (Tuang H. Lompoa) ini menegaskan setalah terbentuknya nama kampung ini maka disusunlah kembali Struktur Pemerintahan yakni kepala kampungnya diberi gelar Galla (Gallarrang). Tokoh yang dilantik menjadi Gallarrang Pertama di Japing-Japing adalah Tuang Barakka, yang juga dikenal sebagai Galla Bara. 

Pelantikan Tuang Barakka sebagai Gallarrang Pertama Japing-Japing ini memiliki legitimasi tinggi karena dilakukan oleh KH. H. Muhammad Shiddiq (Tuang Hajji Lompoa) atas izin dari Raja Bone ke.23 La Tenri Tappu To Appaliweng, yang memerintah dari tahun 1775 hingga 1812 M. La Tenri Tappu, cucu dari La Temmassonge (Raja Bone ke.22), juga dikenal dengan nama Islam Sri Sultan Ahmad As-Saleh Syamsuddin dan gelar almarhumnya Petta MatinroE ri Rompégading yang saat ini makamnya berada di Wilayah Kerjaan Tallo Jl.Sultan Abdullah Kelurahan Tallo Kecamatan Tallo Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan. Raja ini terkenal karena kecintaannya pada ilmu agama, bahkan mengarang buku tasawuf berjudul Nurul Hadi.

Keterlibatan langsung Raja Bone ke-23 (La Tenri Tappu) dalam legitimasi Gallarrang Japing-Japing menunjukkan bahwa wilayah Pangkep ini berada di bawah pengaruh atau pengawasan struktural dari Kerajaan Bone.

Olehnya itu ibu Syekh KH. H. Muhammad Shiddiq (Tuang H.Lompoa) makamnya berdekatan bertiga didalam Ko'Banga dengan Raja Gowa ke.28 i Sumaele Karaeng Bonto Langkasa dan Anak dari KH. Muhammad Nur Daeng Matutu bernama KH. H. Mahmud. 

Alasan KH. H. Muhammad Shiddiq (Tuang H. Lompoa) memilih dan melantik Tuang Barakka menjadi Gallarang pertama di Japing-Japing karena ia merupakan iparnya sendiri yang dari Baru-baru/Pagang Pangkep. 

Titik puncak dan filosofis dari narasi silsilah Japing-Japing ini terungkap melalui peran dan ajaran dari KH. Muhammad Shiddiq Al Aidid (Tuan Haji Lompoa). Meskipun lahir dari gabungan darah biru Raja Bone, Raja Bajeng, dan Ulama Sayyid, beliau justru menggunakan status keturunannya yang luar biasa itu untuk menegaskan sebuah prinsip keagamaan yang egaliter.

Inilah jawaban mengapa Kampung Japing-Japing, meski menjadi tempat peristirahatan para Raja dan leluhur bangsawan, tidak memiliki gelar bangsawan dalam tatanan sosialnya.

Dengan begitu banyaknya gelar tinggi (Raja, Karaeng, Sayyid dan ince) yang berkumpul dan saling terkait, Syech KH. H. Muhammad Shiddiq (Tuang H.Lompoa) mengambil posisi yang tegas dan mendalam secara spiritual "Semua gelar duniawi itu sama dan dilebur dalam pandangan tauhid"

Beliau menegaskan bahwa tidak ada lagi Raja atau Karaeng yang patut ditinggikan di Japing-Japing, kecuali Allah SWT sebagai Al-Karaeng (Sang Raja) yang sejati dan patut disembah.

Filosofi ini menjadikan Japing-Japing sebuah Kampung Tauhid di mana otoritas spiritual mengatasi otoritas sosial-politik, menghapuskan stratifikasi bangsawan di antara penduduknya.

Sehingga Masyarakat Japing-japing Pangkep ini tidak memakai Gelar atau Karaeng namun sebagian Masyarakatnya yang masih menjunjung tinggi adat-budayanya disana seperti Pa’Daengan atau Daeng digunakan.

Narasi ini menyimpulkan bahwa Japing-Japing Pangkep, adalah sebuah miniatur sejarah yang padat, dengan demikian, bukan sekadar kampung, melainkan sebuah simpul sejarah di mana garis darah kerajaan Bone dan Gowa, ajaran ulama, serta struktur pemerintahan lokal pertama, bertemu dan diabadikan disana. 

Hironisnya Kampung Japing-Japing yang di sebutkan oleh Warga setempatnya ini masih banyak belum mengetahui history hingga mengabaikannya. 





No comments

Powered by Blogger.