jabaktangan.com


Karaeng Pattingalloang Raja Tallo ke.9

 


*Selamat Hari Pahlawan Nasional*


Histori Singkat Tentang Pahlawan yang sebagian masyarakat tidak populer namanya namun diluar negeri mengguncang dunia. Tidak lain Raja adalah Tallo ke.9 sekaligus Mengkubumi kerajaan Gowa bernama I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud Syah, belum ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia, meskipun beliau memiliki kontribusi besar dan merupakan tokoh yang sangat penting dalam sejarah peradaban dan intelektual di Indonesia Timur, khususnya dalam melawan hegemoni VOC.

⚔️ Perjuangan Karaeng Pattingalloang Melawan VOC.

Meskipun lebih dikenal sebagai seorang cendekiawan, peran Karaeng Pattingalloang (Raja Tallo ke-9) dalam melawan sekutu VOC Belanda sangatlah signifikan, terutama melalui jalur politik, ekonomi, dan diplomasi:

1. Penyedia Logistik Perlawanan: Sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo, beliau adalah arsitek utama di balik kekuatan ekonomi dan militer kerajaan. Beliau memastikan Gowa-Tallo memiliki persenjataan modern (termasuk meriam dan mesiu yang dipesan dari Eropa) dan armada yang kuat untuk mempertahankan kedaulatan dari ancaman VOC.

2. Melawan Monopoli Perdagangan: Perjuangan utama Gowa-Tallo melawan VOC adalah menentang monopoli perdagangan rempah-rempah yang ingin dipaksakan VOC. Karaeng Pattingalloang secara teguh menolak hak monopoli tersebut, memegang prinsip "Tuhan menciptakan bumi dan lautan, bumi ini kepunyaan manusia, dan setiap orang bebas berdagang di mana saja." Penolakan ini adalah perlawanan politik dan ekonomi yang sangat mengancam VOC.

3. Diplomasi Internasional: Beliau menggunakan jaringan intelektualnya di Eropa untuk mengimbangi tekanan VOC. Dengan berkorespondensi dengan berbagai negara, Karaeng Pattingalloang secara tidak langsung mencari dukungan internasional dan memastikan VOC tidak bisa bergerak sewenang-wenang tanpa pengawasan.

Meskipun tidak gugur di medan perang melawan VOC (beliau wafat karena sakit pada tahun 1654, beberapa tahun sebelum Perang Makassar pecah), Karaeng Pattingalloang telah mempertaruhkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk memperkuat negaranya agar dapat melawan dan menjaga kemerdekaan generasi masa 
depan dari penjajahan VOC.


📜 Kriteria Pahlawan Nasional.

Untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, seorang tokoh harus memenuhi kriteria berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009. Kriteria umum yang paling relevan dengan kasus Karaeng Pattingalloang adalah:

1. Memimpin atau melakukan perjuangan bersenjata, atau perjuangan politik/bentuk perjuangan lain untuk merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan.

2. Tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan.

3. Memiliki pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan berdampak luas secara nasional.

Masyarakat dan sejarawan lokal terus berjuang agar Karaeng Pattingalloang diakui, mengingat kontribusinya yang luar biasa dalam perjuangan intelektual, politik, dan persiapan militer yang menjadi pondasi kuat perlawanan Gowa-Tallo terhadap VOC.


berdasarkan catatan lontara, berikut adalah Lima Pesan Filosofis ("Lima Pammangjenganna Matena Butta Lompoa") dari Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud Syah, Raja Tallo ke-9, yang berfokus pada rusaknya sebuah negeri atau kerajaan:

5 Pesan Filosofis Karaeng Pattingalloang (Raja Tallo).

Pesan-pesan ini, yang dikenal sebagai "Lima Pammangjenganna Matena Butta Lompoa" (Lima Sebab Rusaknya Sebuah Negara Besar), merupakan warisan intelektual Karaeng Pattingalloang dari Kerajaan Tallo tentang bahaya-bahaya yang dapat menghancurkan sebuah negeri:

1. Punna Tea Nipakaingak Karaeng Maggauka.
Artinya: "Apabila Raja yang memerintah tidak mau diperingati (atau dinasihati)."
(Inti pesan: Kerusakan dimulai dari penguasa yang sombong dan menolak kritik atau masukan dari bawahannya.)

2. Punna Teai Mattoa Tassala na Nia Maja.
Artinya: "Apabila hukum yang salah tidak lagi dibenarkan dan dianggap benar (karena terlalu lama keliru)."
(Inti pesan: Negara akan hancur jika kebiasaan atau peraturan yang jelas-jelas salah dibiarkan terus-menerus hingga dianggap sebagai kebenaran.)

3. Punna Tea Nipammopporan Atanna Karaeng
Artinya: "Apabila Raja yang memerintah tidak mau memaafkan kesalahan rakyatnya (bersikap keras dan tidak adil)."
(Inti pesan: Kehancuran datang dari ketidakadilan dan kekejaman penguasa terhadap rakyatnya, menghilangkan rasa kasih sayang dan pemaafan.)

4. Punna Tenamo Nakamma Bapana Karaeng Maggauka.
Artinya: "Apabila Raja yang memerintah tidak lagi meneladani (kebijaksanaan) leluhurnya."
(Inti pesan: Kehilangan akar sejarah dan meninggalkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pemimpin terdahulu.)

5. Punna Tenamo Nakammaseangi Atanna Karaeng Maggauka.
Artinya: "Apabila Raja yang memerintah tidak lagi menyayangi rakyatnya."
(Inti pesan: Fondasi negara rapuh ketika kepemimpinan tidak lagi dilandasi rasa cinta dan kepedulian terhadap kesejahteraan rakyat.).

Apakah Raja-Raja Tallok ini bisa di kategorikan Pahlawan Nasional RI 
Tuliskan Komentar Anda. 🙏

No comments

Powered by Blogger.