jabaktangan.com


Ulama Besar Yang Tersembunyi di Kampung Japing-Japing Kab Pangkep Kecamatan Minasatene Kelurahan BontoLangkasa.

 MENYINGKAPI JEJARING ULAMA YANG BERPENGARUH DAN TERSEMBUNYI DI KAMPUNG JAPING-JAPING, KEL.BONTOLANGKASA, MINASATENE, PANGKEP.

JEJAK SEJARAH AGH.SAYYID MUHAMMAD BAQIR SHIDDIQ AL AIDID.






Assalamu Alaikun wr.wb.

Bismillahirrahmanirrahim..

Ini adalah narasi yang kaya dan detail, mengupas perjalanan spiritual dan dakwah seorang ulama besar dari Pangkep.


Sang Haji Lompoa: Jejak Suci Al Alimul Alamah KH. Muhammad Shiddiq Al Aidid

Kisah ini adalah tapak perjalanan spiritual seorang ulama agung yang menjadi mata rantai penyatu darah bangsawan Bugis-Makassar dan kemuliaan Ahlul Bait Nabi di Sulawesi Selatan. Dialah Al Alimul Alamah Sayyid Muhammad Baqir Shiddiq Al Aidid, yang lebih dikenal dengan gelar kehormatan KH. Tuan Haji Lompoa atau H. Tanning Karaeng Majennang.

I. Kelahiran dan Garis Darah yang Mulia

KH. Muhammad Shiddiq lahir di Kampung Japing-Japing, Kelurahan Bontolangkasa, Pangkep, pada hari Senin, 4 Juli 1830 M. Kelahirannya menggenapi perpaduan darah mulia:

  • Ayah: Sayyid Abdul Azis Dg. Coke Al Aidid, bergelar Tuanta Dg. Maudu (putra seorang pejuang kolonial, Sayyid Muhajir Al Aidid).

  • Ibu: Sitti Khadijah I Kare Barasa, yang merupakan putri dari ulama besar abad ke-17, Syekh Ahmad Khatib Sibawae.

Perkawinan ini menghasilkan seorang tokoh yang di kemudian hari menjadi tonggak spiritual Pangkep. Sayang, beliau menjadi yatim piatu di usia muda; Ayahnya wafat ketika beliau berusia 7 tahun, dan setahun kemudian, Ibunya menyusul. Beliau dan empat saudaranya kemudian dipelihara dan dibimbing oleh paman mereka, KH. Sayyid Abd. Gaffar Al Aidid Dg. Marowa (Dg. Tomarowa).

II. Pengembaraan Ilmu dan Dua Kali Kembali

Di usia belia, semangat keilmuan Sayyid Muhammad Baqir Shiddiq sudah membara.

  1. Haji Pertama (1847 M): Pada usia 17 tahun, beliau berangkat menunaikan ibadah haji bersama saudaranya, Sayyid Muhammad Ramli Al Aidid Dg. Baddaning, dan sepupu satu-satunya, Hasnah Dg. Sanang (Syarifah Baineya). Di Makkah, atas restu dan bimbingan pamannya yang sudah lebih dulu menetap di sana sejak 1825 M, Sayyid KH. Muhammad Adam Dg. Awalli (Tuang Awalli), beliau dinikahkan dengan sepupunya, Hasnah Dg. Sanang. Setelah itu, beliau kembali ke tanah air, kecuali saudaranya, Sayyid Muhammad Ramli Dg. Baddaning, yang tinggal untuk belajar selama 7 tahun.

  2. Haji Kedua (1852 M): Beliau kembali ke Makkah untuk kedua kalinya dan memutuskan menetap selama 2 tahun guna menuntut ilmu. Beliau kembali ke tanah air pada tahun 1855 M bersama saudaranya (KH. Baddaning).

III. Puncak Keilmuan: Mengembara di Tiga Benua

Panggilan ilmu yang ketiga membawa beliau pada pengembaraan spiritual yang panjang. Atas panggilan sang Paman sekaligus mertuanya, beliau kembali untuk haji dan melanjutkan studi di Makkah selama 7 tahun.

Puncaknya, atas izin Paman/Mertuanya, beliau melanjutkan pengembaraan keilmuan yang luas, menjelajahi:

  • Yaman

  • Turki

  • Maroko

  • Mesir

Pengembaraan lintas benua ini mengukuhkan keahliannya dalam ilmu-ilmu agama, menjadikannya seorang Al Alimul Alamah (yang sangat alim dan berpengetahuan luas).

IV. Pewaris Majelis Ilmu dan Syiar di Sulawesi

Pengembaraan beliau berakhir atas panggilan sang Paman/Mertua di Makkah yang sedang sakit. Sebelum wafat, pamannya berwasiat agar KH. Sayyid Muhammad Baqir Shiddiq Al Aidid melanjutkan pengajian di majelisnya. Sebagai murid dan keponakan yang taat terlebih karena pamannya telah menggantikan peran ayah yang wafat muda beliau bersedia mengemban amanah itu. Selama di Makkah, putra-putranya juga menyusul, salah satunya adalah H. Muhammad Shiddiq Al Aidid (H. Saddiko).

V. Kembali ke Tanah Air dan Dakwah di Wawoni

Pada musim haji berikutnya, beliau bertemu sahabat sekaligus iparnya, KH. Muhammad Nur Dg. Mattutu dari Galesong, yang menyampaikan permintaan mendesak dari muridnya di Kendari agar beliau kembali untuk syiar Islam.

Pada tahun 1902 M, di usia 72 tahun, KH. Muhammad Baqir Shiddiq Al Aidid mengakhiri pengembaraan panjangnya dan tiba di tanah air. Tujuannya yang pertama adalah kampung kelahiran: Japing-Japing, untuk berziarah ke makam ayahnya di belakang masjid tua.

Beliau kemudian membuka majelis pengajian di Rappokadang, Kabba, dan dengan cepat menarik murid dari segala lapisan, mulai dari rakyat biasa hingga para bangsawan. Gelar Tuan Haji Besar atau Haji Lompoa diberikan oleh warga sebagai penghormatan atas kealiman dan lamanya beliau menimba ilmu di Tanah Suci.

Pada tahun 1905 M, beliau memenuhi panggilan dakwah di Pulau Wawoni (Kendari) bersama KH. Muhammad Nur Dg. Mattutu. Di sana, beliau berhasil mengatasi tantangan ilmu-ilmu hitam dan mengislamkan seluruh warga pulau tersebut. Setelah kembali, beliau mengutus keponakannya, KH. Sayyid Fachruddin (Gurutta H. Faharu), untuk melanjutkan dakwah, yang meninggal dan dimakamkan di sana.

VI. Murid Sang Raja dan Akhir Hayat

Setelah mengabdikan diri dalam dakwah selama 35 tahun di Sulawesi, pengaruh beliau menjangkau hingga ke istana. Salah satu murid kesayangan beliau dari kalangan bangsawan adalah Andi Mappanyukki, yang kelak menjadi Raja Bone ke-32.

KH. Muhammad Shiddiq Al Aidid wafat pada hari Rabu, 17 Ramadhan, tahun 1937 M, dalam usia yang sangat panjang, 107 tahun. Beliau dimakamkan di Kampung Rappokadang, Desa Kabba.

Beliau meninggalkan warisan keilmuan yang kokoh, dengan berguru kepada ulama besar seperti:

  • KH. Sayyid Muhammad Adam Al Aidid (Mertua dan Paman).

  • Syekh Ahmad Khatib Minangkabau.

  • Al Habib Ali Bin Muhammad Al Habsy (Shohibul Maulid Simtud Duror).

Beliau menganut paham Sunni dengan akidah Asy'Ariyah, bermazhab Syafii'yah, dan mengamalkan tariqat Ba'Alawiyah dan Khalwatiyah Yusuf.


(Narasi ini disalin dari Lontaraq Patturioloang yang beraksara huruf Serang/silsilah AGH. Sayyid Muhammad Baqir Shiddiq Al Aidid, oleh generasi ketujuh dari beliau.)


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu. 


Penulis:


Sudirman Daeng Haruna., S.Sos., M.Si



No comments

Powered by Blogger.