KH. Muhammad Said Maulana: Ulama Pejuang dari Kampung Japing-Japing Perintis Kemerdekaan Negara RI
KH. Muhammad Said Maulana, atau yang lebih dikenal sebagai Puang Pangrita atau Dato' Maulana, lahir di Kampung Japing-Japing, Kelurahan Bontolangkasa, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan 01 Mei 1876 dan wafat 01 Mei 1967 dimakamkan di Desa Bottoe, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru, tempat di mana perjuangan dan pengabdiannya berlanjut hingga akhir hayatnya. Beliau merupakan salah satu ulama kharismatik sekaligus perintis kemerdekaan yang berasal dari kampung yang dijuluki Kampung Panrita karena banyaknya tokoh ilmu dan ulama yang lahir di sana. Kiprah dakwah dan perjuangan Dato’ Maulana sangat berpengaruh, khususnya di wilayah Barru, Soppeng, Sidrap, Wajo, hingga ke wilayah Mandar (Sulawesi Barat). Di berbagai daerah tersebut, beliau dikenal dengan gelar Puang Tanete, dan dihormati sebagai guru para ulama. Salah satu murid beliau yang paling terkenal adalah KH. H. Ambo Dalle, pendiri Pondok Pesantren DDI Mangkoso Barru, yang kemudian menjadi tokoh sentral dalam pendidikan Islam di Indonesia Timur.
Dato’ Maulana tidak hanya dikenal sebagai tokoh spiritual, tetapi juga sebagai komando perjuangan melawan penjajahan Belanda. Tanpa rasa gentar, beliau turut ambil bagian dalam perlawanan terhadap VOC Belanda jauh sebelum Indonesia merdeka. Semangat juangnya tidak hanya berdasarkan nasionalisme, tetapi juga atas dasar iman dan tanggung jawab agama. Beliau menempuh pendidikan agama di Makkah al-Mukarramah selama 11 tahun, dimulai pada tahun 1895 dan kembali ke tanah air pada tahun 1906. Sepulangnya dari Tanah Suci, beliau berdakwah dan mengobarkan semangat kemerdekaan di kalangan umat dan masyarakat pesisir Sulawesi Selatan. Pada tahun 1931, Dato’ Maulana ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Pulau Jawa selama empat tahun karena aktivitasnya yang dinilai membahayakan kekuasaan kolonial. Namun semangat juangnya tidak padam. Setelah kembali ke Sulawesi, beliau terus membimbing umat hingga akhirnya dikenang sebagai tokoh ulama dan pejuang. Dato Maulana berjuang melawan Belanda sebelum tahun 1945 sehingga beliau di beri penghargaan sebagai perintis kemerdekaan RI atas jasa-jasanya, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, menganugerahkan beliau sebagai salah satu Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia. Sayangnya, nama besar beliau belum banyak dikenal secara luas di kalangan masyarakat modern, khususnya generasi muda.
Narasi ini ditulis berdasarkan kesaksian dan cerita turun-temurun oleh cucunya langsung bernama Syamsu Rijal Aliyah Puang Mappa dari Kabupaten Barru dalam keterangannya
"Saya pernah merasakan langsung Gaji Nenek saya sebagai Perintis kemerdekaan RI melebihi gaji Peteran, Ungkapnya".
Kemudian disalin ulang oleh cicit beliau, Sudirman S.Sos., M.Si Daeng Haruna (Diman), sebagai bentuk pelestarian sejarah dan penghormatan terhadap warisan perjuangan keluarga besar Panrita Japing-Japing.

No comments