KH. H. Muhammad Shiddiq Pangkep Sulsel
CAHAYA
ISLAM DARI KAMPUNG JAPING-JAPING PANGKEP SULSEL MENUJU TANAH YANG SUCI MEKAH
(Gamabar.I)
KH. H. Muhammad Shiddiq Waktu Masih Muda
Pangkep: Pusat Sejarah Islam
Sulawesi Selatan
Pangkep, yang terletak sekitar
50 km dari Makassar, telah lama diakui sebagai salah satu sentral penting dalam
penyebaran dan pendidikan Islam awal di Sulawesi Selatan. Pulau Salemo di
Pangkep menjadi ikon sejarah, dahulu dikenal sebagai "kiblat"
pembelajaran Islam, bahkan sebelum berdirinya pesantren-pesantren besar seperti
As'adiyah Sengkang dan Parepare. Peran tokoh sentral seperti Syaikh Abdurrahim
Uangna Kwali di Pulau Salemo telah mampu menarik minat para ulama dan santri
dari berbagai wilayah, memperkuat reputasi Salemo sebagai “Pulau Ulama”. Namun Salah
satu Tokoh bernama Syech KH. H. Muhammad Shiddiq sudah mengembang jauh di Tanah
Suci Mekah, Madina hingga ke Turki selama 47.Tahun.
KH. Muhammad Shiddiq adalah
tokoh ulama besar dari Sulawesi Selatan yang menorehkan sejarah panjang dalam
perjalanan Islam di wilayah Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Indonesia, baik
melalui pendidikan, dakwah lintas generasi, hingga perjalanan keilmuan
internasionalnya yang luar biasa.
Biografi Singkat KH. Muhammad
Shiddiq
KH. Muhammad Shiddiq lahir di
Kampung Japing-japing Kelurahan Bontolangkasa Kecamatan Minasatene Kabupaten
Pangkep pada tahun 1830 dan wafat tahun di Desa Kabba Kecamatan Minasatenne
pada tahun 1937, dikenal sebagai ulama dengan perjalanan intelektual dan
spiritual yang mendalam. Ia menghabiskan 47 tahun di Timur Tengah, khususnya di
Mekkah dan Madinah, serta sempat bermukim dan mengajar di Turki dan Maroko.
Interaksinya dengan dunia Islam global membekali Syekh Shiddiq dengan wawasan
dan kredibilitas tinggi dalam pendidikan serta pembaruan Islam di Indonesia
(Gambar II)
KH.H.Muh.Shiddiq usia Tua
Kiprah & Jejak Keilmuan
Sepanjang hidupnya, ia
menjalin hubungan yang erat dengan komunitas ulama internasional dan menyerap
beragam tradisi keilmuan Islam sebelum kembali menyebarkan ilmu dan ajaran
Islam di kampung halaman dan sekitarnya. Hingga kini, tidak banyak masyarakat yang
mengetahui kiprah global serta berbagai peran penting beliau di ranah
internasional dan local.
Misi Dakwah dan Islamisasi
Meski sempat enggan untuk
kembali ke tanah air, Syekh Muhammad Shiddiq akhirnya kembali ke Sulawesi atas
dorongan seorang peziarah dari Kendari Sulawesi Tenggara. Ia kemudian fokus
pada dakwah Islamisasi, mendorong masyarakat lokal menjauhi tradisi animisme
menuju pemurnian keyakinan Islam yang ortodoks, terutama di Pulau Wawoni
Kendari Sulteg. Upaya ini mempertegas peran Pangkep sebagai pusat utama sejarah
penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.
Pengaruh Spiritual dan
Kepemimpinan
Syekh Muhammad Shiddiq
tercatat pula sebagai ulama utama dalam sejarah kerajaan Bone, bahkan
tokoh-tokoh terkemuka seperti Andi Mappanyukki Raja Bone Terakhir muridnya,
serta keturunan kerajaan lainnya adalah murid-murid beliau. Ia mewariskan
tradisi tarekat Sufi Khalwatiah sebagai penerus ajaran Syekh Yusuf Al-Makassari,
dan pengaruh spiritualnya tetap kuat melalui para murid dan keturunannya hingga
saat ini.
Signifikansi dan Refleksi
Akademik
Penelusuran jejak KH. Muhammad
Shiddiq mendemonstrasikan betapa strategi penyebaran Islam di Sulawesi Selatan
melalui proses sosialisasi, pendidikan, dan reformasi ajaran agama secara
konsisten. Kombinasi antara warisan lokal, perjalanan negara, dan silsilah
spiritual menghasilkan model dakwah yang adaptif dan efektif dalam menghadapi
tantangan budaya serta sosial di setiap zaman.
Silsilah dan Warisan Keluarga
Sibawaih
Ayahnya bernama Sayyid H. Abdul
Asisi Al-Aidid Jumaleng Daeng Sirua Bangkasa Kebona Japing-japing sedangkan
ibunya bernama Siti Khadija Daeng Riolo Karaeng Karaeng Barasa Cucu dari Raja
Bone ke.22 bernama La Temmassonge Toappawali yang juga dikenal sebagai
Sultan Abdul Razak. Ia memerintah Kerajaan Bone dengan gelar Petta
Matinroe Ri Mallimongeng.
Di antara tokoh yang paling
berpengaruh adalah Syech Kiyai Haji Sibawaih atau Ahmad Khatib Shibbawai (I
Barakka Daeng Mallabbang) Bin Raja Bone.22 La Temmassonge merupakan Gurur sekaligus Kakenya sendiri,
yang lahir tahun 1765, bersama keturunannya, termasuk cucunya Syekh Muhammad
Shiddiq. Keluarga ini menjadi simbol estafet kepemimpinan agama yang bertahan
lintas generasi, menegaskan peran penting warisan keluarga dalam lestarinya
keilmuan Islam lokal dan regional.
Panggil di Mekah: Syech
H.Muhammad Shiddiq Bafaqih
Panggilan Kampung Asalnya :
Tuan H. Lompoa atau H. Tanning
Panggilan Bangsawan Makassar:
Karaeng Majannang
Panggilan Populer: KH. Muh.
Shiddiq
Berikut adalah detail lengkap
tokoh ulama KH. Muhammad Shiddiq, beserta ragam panggilan yang dikenal di
berbagai kawasan dan komunitas:
Identitas Lengkap KH. Muhammad
Shiddiq
NamaLengkap: Al-Alimul
Alamah Sayyid Muhammad Baqir Shiddiq Al-Aidid
Tempat&TanggalLahir: Japing-japing,
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, 04 Juli 1830
Tahun Wafat: Desa Kabba Kec.Minasatene Kab.Pangkep 1937
WilayahAktivitas: Tanah
Arab (Mekah, Madinah), Turki, dan sekitarnya sebelum kembali ke Indonesia.
Lahir di Kampung Japing-Japing
Kabupaten Pangka Jenne dan Kepulauan Sulawesi Selatan. Dan berkiprah di luar
Indonesia. Namun masih banyak belum mengetahui
Kesimpulan
Dengan demikian, kisah perjuangan dan pengabdian Syech KH. H. Muhammad Shiddiq Bafaqih dapat terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang. Warisan KH. Muhammad Shiddiq
di Pangkep dan sekitarnya adalah representasi penting dalam sejarah Islam
Indonesia, menampilkan interaksi harmonis antara pusat-pusat pendidikan lokal
dengan jaringan ulama di dunia Muslim yang lebih luas. Tradisi keilmuan dan
kepemimpinan yang diwariskan melalui beliau menandai transformasi budaya dan
spiritual masyarakat Sulawesi sekaligus membuka peluang pengkajian lebih lanjut
untuk memahami dinamika Islamisasi di Nusantara secara multidimensi.
Makam Tua Syech KH. H. Muhammad Baqir Shiddiq
Berada di Desa Kabba Kec.Minasatene Kab.Pangkep
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Syech H. Muhammad Shiddiq Bafaqih, Anda dapat mengunjungi kampung halamannya di Kampung Japing-Japing Kelurahan Minasatene Kelurahan Bontolangkasa Kabupaten Pangkep. Di sana, Anda dapat bertemu dengan cicit-cicitnya yang masih hidup dan mendengar kisah perjuangan dan pengabdian Syech H. Muhammad Shiddiq Bafaqih secara langsung.
Salah satu cicitnya, Mirajuddin Bafiqih Daneg Parani biasa dipanngil Miraju di Japing-japing dan merupakan Ketua RW.08 Kel.Bontolangkasa Kec.Minasatene Kab. Pangkep, anak dari Alm. H. Muhammad Djausan Dg. Ngiri, telah berbagi kisah tentang Syech H. Muhammad Shiddiq Bafaqih. Kisah ini kemudian abadikan oleh Trah turunan dari Galesong Kab.Takalar KH. H. Ince Mappatunru Iyakamabassung Karaeng Mandalle Penasehat Agama Kerajaan Gowa yang hijrah ke Japing-japing bernama Sudirman, S.Sos., M.Si Daeng Haruna alias Diman selaku Aktivis Sosial-Politik dan Pegiat Budaya Lokal.
Referensi:
Wawancara 2023. dari Ketua RW.08 Mirajuddin Daeng Parani Trah turunan KH. H. Muh. Sihddiq
Prof Basir Syam. 2019 Channal Youtube CalebesTv 6.Tahun yang lalu di upload Link: https://www.youtube.com/watch?v=7kt3F6jAx6o
Apriani. Jumat, 31 Mei 2019 11:52 Link: https://www.celebesmedia.id/celebes/artikel/1005310519/jejak-ulama-21-kh-syekh-muhammad-shiddiq-1830-1937
PPT : https://smallppt.com/aippt/?shareId=1758075312712824356




No comments