jabaktangan.com


Ince Mappa Ulama dari Gaelsong Hijrah Ke japing-Japing Pangkep

                                                                     (Ince Mappa) 

Berikut adalah cerita sejarah tentang Ince Mappa dari Galesong Kab.Takalar.

Lahir: Galesong, diperkirakan Tahun 1855

Wafat: Japing-Japing Pangkep, diperkirakan Tahun 1958


Ince Maulana Mappatunru Iyakamabassung Daeng Manjarungi Tumailalang Gowa Karaeng Mandalle (Ince Mappa), sudah saya lengkapi dengan asal-usulnya sebagai putra Panglima Perang Kerajaan Gowa, Ince Ahmad, serta kisah akhir hidupnya di Japing-Japing, Pangkep:


Ince Maulana Mappatunru Iyakamabassung Daeng Manjarungi Karaeng Mandalle (Ince Mappa): Ulama Kerajaan Gowa dan Penjaga Warisan Spiritual di Japing-Japing

Dalam sejarah panjang Kerajaan Gowa, berdiri sosok ulama yang dihormati bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kebijaksanaan dan keteguhan imannya. Ia adalah Ince Maulana Mappatunru Iyakamabassung Daeng Manjarungi Karaeng Mandalle, yang lebih dikenal dengan nama Ince Mappa — seorang penasehat agama kerajaan yang berperan besar dalam menjaga harmoni antara adat, budaya, dan syiar Islam di tanah Gowa.

Ince Mappa bukanlah orang biasa. Ia merupakan putra dari Ince Ahmad, seorang panglima perang gagah berani Kerajaan Gowa yang dikenal karena keberaniannya dalam mempertahankan kehormatan kerajaan dari berbagai ancaman, baik dari luar maupun dalam. Dari sang ayah, Ince Mappa mewarisi semangat kepemimpinan, keberanian, serta jiwa pengabdian kepada tanah Gowa. Namun, berbeda dari ayahnya yang menempuh jalan pedang, Ince Mappa memilih jalan pena dan dakwah, menegakkan kejayaan Gowa melalui ilmu dan agama.

Asal usulnya berakar dari Gaelosong, Kabupaten Takalar, wilayah yang sejak dahulu dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam di Sulawesi Selatan. Di sana, Ince Mappa tumbuh dalam lingkungan keagamaan yang kuat, menimba ilmu dari para ulama dan mursyid yang dikenal luas di kalangan bangsawan dan rakyat jelata.

Berbekal ilmu dan akhlak mulia, Ince Mappa kemudian diangkat menjadi penasehat agama Kerajaan Gowa. Dalam menjalankan tugasnya, ia dikenal dekat dengan Raja Gowa dan para bangsawan istana. Suaranya didengar dalam berbagai perkara — mulai dari konflik internal kerajaan, hingga musyawarah besar keagamaan. Ketika kerajaan menggelar acara keagamaan atau adat istana, Ince Mappa selalu hadir sebagai sosok yang menuntun dengan petuah, doa, dan kebijaksanaannya.

Namun, perjalanan hidupnya tidak berhenti di istana. Setelah masa pengabdiannya di Gowa, Ince Mappa memilih hijrah ke Japing-Japing, Kabupaten Pangkep, bersama keluarga dan murid-muridnya. Hijrah ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi juga langkah spiritual — melanjutkan dakwah Islam di tanah pesisir yang kala itu mulai tumbuh sebagai pusat pengajaran agama dan budaya Makassar.

Di Japing-Japing, Ince Mappa menikah dengan Dengto Mariama, yang dikenal juga dengan berbagai gelar dan nama kehormatan seperti Dengto Mari binti Sayyid KH. Abd. Gaffar Al-Aidid Daeng Marowa, atau Dengto Marowa alias Gappar Daeng Maroa alias Gurungta’ Daeng Setta, seorang tokoh agama yang populer dengan sebutan Petta Imam Japing-Japing. Dari pernikahan ini, keduanya dikaruniai empat orang anak yang kemudian menjadi penerus ilmu dan keturunan mulia mereka:

  1. Siang Daeng Tenne

  2. Saeng Daeng Ngai

  3. Rimang Daeng Baji

  4. KH. Said Maulana Daeng Mattiro

Selama hidupnya di Japing-Japing, Ince Mappa menjadi panutan masyarakat — tokoh agama, pemimpin adat, dan guru spiritual. Ia memainkan peran penting dalam berbagai kegiatan adat, budaya, dan keagamaan, memastikan bahwa ajaran Islam tetap bersinergi dengan kearifan lokal masyarakat Makassar. Dalam setiap musyawarah, ziarah adat, maupun perayaan keagamaan, nama Ince Mappa selalu disebut dengan penuh hormat.

Akhir hayatnya pun menjadi bagian dari kisah spiritual yang tak terlupakan. Setelah menunaikan tugasnya sebagai ulama dan penasehat umat hingga usia lanjut, Ince Maulana Mappatunru Iyakamabassung Daeng Manjarungi Karaeng Mandalle (Ince Mappa) wafat dengan tenang di Japing-Japing, Pangkep. Ia dimakamkan berdampingan dengan istrinya tercinta, Dengto Mariama alias Dengto Mari, di tanah yang kini menjadi tempat ziarah dan penghormatan masyarakat setempat.

Kepergian Ince Mappa menandai berakhirnya satu babak penting dalam sejarah ulama Kerajaan Gowa, namun jejak perjuangannya tetap hidup dalam nilai-nilai keagamaan, adat, dan budaya yang ia tanamkan. Hingga kini, nama Ince Mappa dikenang sebagai ulama bijak dari garis keturunan panglima perang, yang menjaga kehormatan Gowa bukan dengan pedang, tetapi dengan ilmu, iman, dan kebijaksanaan.

No comments

Powered by Blogger.