History Kampung Japing-japing
(Masjid Besar Japing-Japing Pangkep Kelurahan Bontolangkasa Kec.Minasatenne Kab.Pangkep)
Masjid Jami raudhatul muhibbah japing-japing
Sebuah narasi silsilah yang
sarat akan sejarah, kekuasaan kerajaan, dan penyebaran agama, yang berujung
pada pilar penting di Japing-japing, Pangkep.
I. Sang Raja yang Berkuasa: La
Temmassonge Matinroe Ri Mallimongeng
Kisah ini bermula dari
singgasana Kerajaan Bone, tempat bersemayamnya sosok agung yang memimpin di
tengah gejolak abad ke-18. Dialah La Temmassonge Toappawali Sultan Abdul
Razak Matinroe Ri Mallimongeng, Raja Bone ke-22.
Memerintah selama seperempat
abad, dari tahun 1749 hingga 1775, La Temmassonge bukan hanya sekadar
nama, melainkan sebuah gelar yang melambangkan kekuasaan yang luas, bahkan
dihormati oleh penguasa di wilayah lain, terbukti dari penggunaan nama serupa
oleh Raja Wajo (Puanna Deli) dan Raja Gowa/Tallo (Karaeng Katangka).
La Temmassonge lahir dari
perpaduan dua trah bangsawan: ayahnya adalah La Patau Matanna Tikka,
Raja Bone ke-16 yang legendaris, dan ibunya adalah Sitti Maemuna,
seorang bangsawan dari Marusu. Menjadi simbol kejayaan dan pengaruh, sang Raja
dikenal memiliki pengaruh yang masif, tercatat dalam sejarah memiliki 40
istri, sebuah bukti nyata akan jaringan kekerabatan yang sangat luas.
II. Jembatan Ruhani ke
Pangkep: Garis Keturunan Ulama
Dari garis keturunan La
Temmassonge yang luas ini, muncul seorang keturunan yang mengarahkan fokus
kekuasaan dari istana menuju dakwah keagamaan. Dialah La Barakka Daeng
Mala’bang—seorang ulama dan penyiar Islam yang juga dikenal sebagai KH.
Ahmad Sibawai.
La Barakka membawa panji Islam
dan kemuliaan darah Bone ke wilayah Pangkep, menjadikannya tokoh sentral dengan
gelar kehormatan Katte Lompoa Ri Pagang Pangkep. Gelar ini mengukuhkan
perannya sebagai pembesar agama di daerah tersebut.
Peran La Barakka ini menjadi
jembatan sejarah, karena ia memiliki putri bernama Sitti Khadija Karaeng
Barasa Daeng Riolo. Sitti Khadija adalah perwujudan pertemuan darah
bangsawan Bone (melalui kakeknya La Temmassonge) dengan kemuliaan ulama
(melalui ayahnya La Barakka).
III. Titik Temu Kekuasaan dan
Spiritualitas di Japing-Japing
Kisah silsilah yang menjangkau
Japing-japing, Pangkep, mencapai puncaknya melalui pernikahan Sitti Khadija
Karaeng Barasa Daeng Riolo. Ia dipersunting oleh seorang tokoh spiritual
yang memiliki multi-identitas dan pengaruh besar di wilayah tersebut: Sayyid
Abdul Azis Al Aidid.
Sayyid Abdul Azis dikenal
dengan ragam nama dan gelar yang menunjukkan kedalaman pengaruhnya—mulai dari Jumaleng,
H. Sinalu DG. Sirua Bangkasa, Zaenal Abidin DG. Mannutungi,
hingga DG. Cokke Al Aidid. Gelar yang paling melekat padanya adalah Tuanta’
DG. Maudu.
Gelar Tuanta’ DG. Maudu
ini diberikan karena beliau adalah orang yang pertama kali mengadakan tradisi
peringatan Maulid Nabi (Maudu) di Japing-japing Pangkep, menjadikannya IMAM
Guru dan guru spiritual utama di daerah itu.
Pernikahan Sitti Khadija
dengan Sayyid Abdul Azis Al Aidid ini adalah konvergensi strategis yang luar
biasa: darah Raja Bone ke-22 berpadu dengan garis keturunan para Sayyid Al
Aidid.
IV. Akar Keagamaan di
Japing-Japing
Sayyid Abdul Azis Al Aidid
sendiri merupakan putra dari Tuan Sayyid Muhajir Al-Aidid, seorang figur
sentral yang dijuluki Anrong Guru (Guru Besar). Tokoh ini juga dikenal
dengan gelar kerajaan Karaeng Pepea, Karaeng Bajeng ke-13, I
Terasa Daeng Ma’lalang, dan I Cokke Manjarungi Japing-Japing Pangkep.
Dengan demikian, pernikahan
antara Sitti Khadija (cucu Raja Bone XXII yang bersambung dengan Ulama Pangkep)
dengan Sayyid Abdul Azis Al Aidid (putra Anrong Guru) menciptakan sebuah garis
keturunan yang kokoh, memadukan kekuasaan Kerajaan Bone dengan otoritas
keagamaan ulama Japing-japing. Keturunan mereka adalah pewaris sah atas
kemuliaan dua dunia: takhta dan syariat, yang menjadi cikal bakal penting dalam
struktur sosial dan keagamaan di Japing-japing, Pangkep.
|
Nomor |
Tokoh |
Gelar/Peran |
Hubungan
ke Japing-Japing |
|
I |
La Temmassonge
Toappawali Sultan Abdul Razak |
Raja Bone ke-22
(1749-1775) |
Kakek Buyut dari Ulama Japing-Japing (KH.Muhammad
Shiddiq) |
|
II |
La Barakka Daeng Mala’bang / KH.
Ahmad Sibawai |
Katte Lompoa Ri Pagang Pangkep
(Ulama) |
Ayah Sitti Khadija (menghubungkan darah Bone ke Pangkep) |
|
III |
Sitti Khadija Karaeng Barasa Daeng Riolo |
Cucu Raja Bone ke-22 |
Istri dari Imam Guru Japing-Japing Jumaleng DG.Sirua
Bangkasa Kebonna Japing-japing Pangkep. |
|
IV |
Sayyid Abdul Azis Al Aidid
(Tuanta’ DG. Maudu) Populer Jumaleng DG.Sirua Bangkasa Kebonna Japing-japing
Pangkep. |
IMAM Guru Japing-Japing /
Putra Raja Bajeng ke-13 |
Pendiri tradisi Maulid di Japing-Japing |
|
V |
KH. Muhammad Shiddiq Al Aidid |
Tuan Haji Lompoa
(Ulama Besar) |
Tokoh Sentral yang lahir dan dibesarkan di Japing-Japing |
|
VI |
Andi Mappanyukki |
Raja Bone ke-32 /
Putra Raja Gowa ke-34 |
Murid dari KH. Muhammad
Shiddiq |
Lanjutan narasi ini menyingkap
fakta penting terkait makam Sitti Khadija Karaeng Barasa Daeng Riolo di
Japing-Japing, yang menunjukkan betapa sentralnya lokasi ini sebagai tempat
peristirahatan terakhir bagi tokoh-tokoh penting dari trah kerajaan dan ulama.
VI. Makam Keramat Tiga Tokoh
di Japing-Japing
Kisah silsilah yang
mempertemukan darah Raja Bone dan Ulama Pangkep, Sitti Khadija Karaeng
Barasa Daeng Riolo, ternyata berujung pada sebuah kompleks makam yang sarat
makna sejarah di Japing-Japing, Pangkep.
Sitti Khadija dimakamkan di
dalam Ko'bang (sejenis cungkup atau kubah makam kehormatan) bersama dua
tokoh bersejarah lainnya:
- I Sumaele Karaeng Bontolangkasa (Sultan
Abdul Hadi), yang merupakan Raja Gowa ke-28
(memerintah sekitar 1769-1778). Nama lengkapnya adalah I Mannawarri I
Sumaele Karaeng Bontolangkasa Karaeng Mangasa Sultan Abdul Hadi Tumenanga
ri Lambusu'na.
Keberadaan makam Raja Gowa
ke-28 ini bersama Sitti Khadija—cucu Raja Bone ke-22—di Japing-Japing, Pangkep,
menggarisbawahi adanya hubungan politik, kekerabatan, atau spiritual yang
sangat erat antara tiga wilayah utama Bugis-Makassar (Bone, Gowa, dan Pangkep).
- KH. Mahmud Bin KH. Muhammad Nur Daeng
Matutu, seorang Ulama yang berasal dari Galesong,
Kabupaten Takalar, yang kemudian hijrah dan menetap di Japing-Japing
Pangkep.
Dimakamkannya Sitti Khadija di
dalam satu Ko'bang dengan Raja Gowa ke-28 dan seorang Ulama dari Takalar
menunjukkan bahwa Japing-Japing bukan sekadar tempat tinggal, melainkan
sebuah pusat persimpangan historis bagi kaum bangsawan dan pemuka agama
di Sulawesi Selatan.
KESIMPULAN: Japing-Japing,
Simpul Dinasti dan Dakwah
Secara keseluruhan,
Japing-Japing Pangkep adalah titik konvergensi dari tiga kekuatan:
- Dinasti Bone:
Melalui La Temmassonge (Raja Bone XXII), yang berlanjut pada
cucunya, Sitti Khadija.
- Dinasti Gowa:
Terwakili oleh makam Sultan Abdul Hadi (Raja Gowa XXVIII).
- Pusat Ulama:
Melalui kehadiran KH. Muhammad Shiddiq Al Aidid (putra Sitti
Khadija) dan makam KH. Mahmud dari Galesong.
Rangkaian silsilah dan tempat
peristirahatan ini mengukuhkan Japing-Japing, Pangkep, sebagai sebuah
situs penting yang merefleksikan jejaring kekuasaan politik dan penyebaran
spiritual Islam di Sulawesi Selatan pada abad ke-18 dan 19.
VII. Peristirahatan Sang Imam
Guru: Sayyid Abdul Azis Al Aidid
Walaupun berpasangan dalam
kehidupan dan melahirkan ulama besar di Japing-Japing, tempat peristirahatan
terakhir Sayyid Abdul Azis Al Aidid terpisah dari istrinya, Sitti
Khadija, namun masih dalam lingkup wilayah keramat yang sama.
Sayyid Abdul Azis Al Aidid, sang
tokoh yang dikenal dengan beragam gelar kehormatan—mulai dari Jumaleng, H.
Sinalu DG. Sirua Bangkasa Kebonna Japing-Japing Pangkep, Zaenal Abidin
DG. Mannutungi, DG. Cokke Al Aidid, hingga gelar yang paling populer
Tuanta’ DG. Maudu (yang pertama kali mengadakan Maulid di
Japing-Japing)—dimakamkan di Japing-Japing Utara, Pangkep.
Pemisahan makam ini—istri di
kompleks Ko'bang yang strategis bersama Raja Gowa dan Ulama Takalar, sedangkan
suami (Imam Guru) di Japing-Japing Utara—mungkin menandakan pembagian wilayah
kekuasaan spiritual atau struktur sosial di masa itu. Meskipun demikian, lokasi
makam keduanya tetap mengokohkan Japing-Japing Pangkep sebagai tanah
yang disucikan oleh keturunan raja dan Sayyid.
Kedua makam ini, yang
berdekatan namun terpisah, menjadi simbol abadi dari penyatuan garis keturunan
Raja Bone (melalui Sitti Khadija) dan trah Sayyid Al Aidid (melalui Sayyid
Abdul Azis), yang kemudian membuahkan kebesaran ilmu melalui putra mereka, KH.
Muhammad Shiddiq Al Aidid.
Poin terakhir ini
menghubungkan secara langsung silsilah Raja Bone dan Ulama Japing-Japing dengan
pembentukan struktur pemerintahan lokal pertama di Japing-Japing, melibatkan
dua Raja Bone berturut-turut: La Temmassonge (Raja Bone ke-22) dan penerusnya, La
Tenri Tappu To Appaliweng (Raja Bone ke-23).
VIII. La Tenri Tappu dan
Lahirnya Gallarrang Japing-Japing
Kisah silsilah dan keagamaan
di Japing-Japing kini dipertemukan dengan sejarah administratifnya melalui
peran seorang raja yang juga dikenal sebagai ulama.
Dialah La Tenri Tappu
To Appaliweng, Raja Bone ke-23, yang memerintah dari
tahun 1775 hingga 1812 M. La Tenri Tappu, cucu dari La Temmassonge
(Raja Bone XXII), juga dikenal dengan nama Islam Sri Sultan Ahmad
as-Saleh Syamsuddin dan gelar almarhumnya Petta MatinroE ri
Rompégading. Raja ini terkenal karena kecintaannya pada ilmu agama, bahkan
mengarang buku tasawuf berjudul Nurul Hadi.
Pembentukan Kampung dan
Pelantikan Gallarrang
Menurut narasi yang dibagikan
oleh Karaeng Bontolangkasa (berdasarkan cerita kakeknya yang
asli Japing-Japing), proses pembentukan Kampung Japing-Japing terjadi sebagai
berikut:
- Awal Mula Nama: Wilayah
ini dulunya hanya disebut Pa'rasangan (tempat tinggal).
Nama Japin muncul setelah I Daeng Ma'lalangi menggali
sumur dan menemukan Kerang yang disebut Japin. Sejak
saat itu, wilayah tersebut dikenal sebagai Pa'rasangan Japin.
- Struktur Pemerintahan: Setelah
Pa'rasangan Japin dibentuk menjadi kampung, kepala kampungnya diberi
gelar Gallarrang.
- Gallarrang Pertama: Tokoh
yang dilantik menjadi Gallarrang Pertama di Japing-Japing
adalah Tuang Barakka, yang juga dikenal sebagai Galla
Bara.
Legitimasi Raja Bone
Pelantikan Tuang
Barakka sebagai Gallarrang Pertama Japing-Japing ini memiliki
legitimasi tinggi karena dilakukan oleh Tuang Lompoa (kemungkinan
merujuk pada salah satu tokoh sentral dari silsilah
sebelumnya, seperti Anrong
Guru atau Sayyid Abdul Azis Al Aidid) atas Izin La Tenri Tappu Mangkau
Ri Bone waktu itu.
Keterlibatan langsung Raja
Bone ke-23 (La Tenri Tappu) dalam legitimasi Gallarrang Japing-Japing
menunjukkan bahwa wilayah Pangkep ini berada di bawah pengaruh atau pengawasan
struktural dari Kerajaan Bone.
Hubungan kekerabatan semakin
erat dengan catatan bahwa Tuang Barakka (Gallarrang Pertama)
lahir di Baru-Baru/Pagang dan merupakan ipar dari
Tuang Lompoa yang melantiknya.
VIII. Japing-Japing: Simpul
Tiga Raja dan Tiga Tokoh Utama
Narasi ini menyimpulkan bahwa
Japing-Japing, Pangkep, adalah sebuah miniatur sejarah yang padat,
menghubungkan:
|
Bidang Pengaruh |
Tokoh Sentral |
Kedudukan |
|
Kekuasaan Bone |
La Temmassonge (Raja Bone XXII) |
Leluhur utama Japing-Japing (melalui
cucunya, Sitti Khadija) |
|
Kekuasaan Bone (Legitimasi) |
La Tenri Tappu (Raja Bone XXIII) |
Memberi izin pelantikan Gallarrang
Pertama Japing-Japing |
|
Kekuasaan Gowa |
Sultan Abdul Hadi (Raja Gowa XXVIII) |
Dimakamkan bersama Sitti Khadija di
Ko'bang Japing-Japing |
|
Spiritual/Ulama |
Sayyid Abdul Azis Al Aidid (Tuanta’ DG.
Maudu) |
Imam Guru, suami Sitti Khadija, ayah
KH. Shiddiq, dimakamkan di Japing-Japing Utara |
|
Administrasi Lokal |
TuangBarakka (Gallarrang) |
Gallarrang Pertama yang dilantik
KH.Muhammad Shiddiq atas izin Raja Bone XXIII |
Japing-Japing Pangkep, dengan
demikian, bukan sekadar kampung, melainkan sebuah simpul sejarah di mana garis
darah kerajaan Bone dan Gowa, ajaran ulama, serta struktur pemerintahan lokal
pertama, bertemu dan diabadikan.
IX. Japing-Japing: Dari Pusat
Dinasti Menjadi Kampung Egaliter
Titik puncak dan filosofis
dari narasi silsilah Japing-Japing ini terungkap melalui peran dan ajaran dari KH.
Muhammad Shiddiq Al Aidid (Tuan Haji Lompoa). Meskipun lahir dari gabungan
darah biru Raja Bone, Raja Bajeng, dan Ulama Sayyid, beliau justru menggunakan
status keturunannya yang luar biasa itu untuk menegaskan sebuah prinsip
keagamaan yang egaliter.
Inilah jawaban mengapa Kampung
Japing-Japing, meski menjadi tempat peristirahatan para Raja dan leluhur
bangsawan, tidak memiliki gelar bangsawan dalam tatanan sosialnya:
Deklarasi KH. Muhammad
Shiddiq: Hanya Allah SWT yang Karaeng
KH. Muhammad Shiddiq Al Aidid,
dalam analisis keilmuan dakwah dan agamanya, menyimpulkan bahwa Kampung
Japing-Japing adalah sebuah melting pot (wadah peleburan) bagi berbagai
entitas kekuasaan dan keagamaan. Beliau melihat kompleksitas silsilah yang
datang dan bertemu di Japing-Japing:
- Raja Bone ke-22 dan ke-23
(La Temmassonge dan La Tenri Tappu).
- Raja Gowa ke-28
( I Sumaele Karaeng Bontolangkasa Sultan Abdul Hadi ).
- Raja Bajeng ke-13
(Tuan Sayyid Muhajir Al-Aidid).
- Panglima Perang,
seperti Ince Ahmad iyakamabassung Daeng manggembei (Panglima Perang Raja
Gowa ke.28 Karaeng Bontolangkasa).
- Ulama dari Galensong
dari Takalar, yang masih mengalir darah ulama dari Minangkabau, Johor,
dan Riau bernama Ince Mappatunru Daeng Manjarungi Populer ince Mappa
Hijrah di Japing-Japing dan Wafat disana bersama istrinya.
- Garis Keturunan Sayyid
yang dimuliakan.
Dengan begitu banyaknya gelar
tinggi (Raja, Karaeng, Sayyid dan ince) yang berkumpul dan saling
terkait, KH. Muhammad Shiddiq mengambil posisi yang tegas dan mendalam secara
spiritual: Semua gelar duniawi itu sama dan dilebur dalam pandangan tauhid.
Beliau menegaskan bahwa tidak
ada lagi Raja atau Karaeng yang patut ditinggikan di Japing-Japing, kecuali
Allah SWT sebagai Al-Karaeng (Sang Raja) yang sejati dan patut
disembah.
Filosofi ini menjadikan
Japing-Japing sebuah Kampung Tauhid di mana otoritas spiritual mengatasi
otoritas sosial-politik, menghapuskan stratifikasi bangsawan di antara
penduduknya.
Sehingga Masyarakat
Japing-japing Pangkep ini tidak memakai Gelar atau Karaeng namun sebagian yang
masih menjunjung tinggi adat-budayanya disana seperti Pa’Daengan atau Daeng
digunakan.
Japing-Japing: Sejarah yang
Tak Terukur
Pandangan ini diperkuat oleh
pengakuan dari keturunan lokal, sebagaimana yang diungkapkan oleh Karaeng
Bontolangkasa dalam media sosial, yang memberikan izin untuk membagi
sejarah:
"Japing2 Menyimpan banyak
sejarah yang belum terkupas, Mulai Dari Toko Agama, Pemimpin, Tubaranina
(Pemberani), Dan Kasanroanna (Tokoh/Panutan). Japing2 sangat di kenal di daerah
luar seperti, Tanralili, Male'leng, Kassi kebo, Turikale, Bontoa, Karuwisi
Bahkan ke Limbung, Polongbangken, Tanete Dll."
Kesaksian ini menegaskan bahwa
nilai Japing-Japing tidak terletak pada gelar bangsawan yang terukur, melainkan
pada kedalaman sejarahnya sebagai pusat pertemuan tokoh agama, pemimpin, dan
panutan dari berbagai penjuru.
Japing-Japing Pangkep, yang
berakar dari silsilah Raja Bone ke-22 dan diakhiri dengan deklarasi spiritual
oleh keturunannya, bertransformasi dari tempat berkumpulnya aristokrat menjadi
sebuah simpul spiritual yang egaliter, di mana semua manusia
berkedudukan sama di hadapan Tuhan, mencerminkan salah satu babak terpenting
dalam sejarah sosial dan keagamaan di Sulawesi Selatan.

No comments