jabaktangan.com


Sayyid Muhajir Raja Bajeng Ke.13 Hijrah ke Japing-Japing Pangkep

 

(Gambar hanya ilustrasi)


Sayyid Muhajir: Raja, Ulama, dan Fondasi Panrita Japing-Japing.


​Kisah Sayyid Muhajir adalah narasi abadi tentang perlawanan, spiritualitas, dan pembentukan garis keturunan ulama yang menyebar dari Gowa ke Pangkep. Beliau adalah Raja Bajeng ke-13 yang dikenal dengan gelar I Terasa Daeng Mala'lang dan Karaeng Pepea, dan merupakan buronan Kompeni Belanda.

Narasi ini mengupas sosok legendaris Tuan Sayyid Muhajir Al-Aidid, seorang raja yang memilih jalan perlawanan dan spiritualitas, menjadikannya buronan Kompeni Belanda dan pendiri tradisi keulamaan di Japing-Japing, Pangkep.


Karaeng Pepea: Sayyid Muhajir dan Titik Awal Perlawanan di Japing-Japing

Kisah Tuan Sayyid Muhajir Al-Aidid adalah epik tentang keimanan, keberanian, dan hijrah. Beliau bukan sekadar bangsawan, tetapi seorang Raja Bajeng ke-13 yang juga menyandang gelar-gelar penuh wibawa seperti Anrong Guru (Guru Besar), Karaeng Pepea (Raja yang Menghangatkan/Mengobarkan Semangat), I Terasa Daeng Ma’lalang, dan I Cokke Manjarungi Japing-Japing.

Lahir dari silsilah mulia Sayyid Muhajir Bin Ja'far Shadiq—menegaskan garis keturunan Ahlul Bait dari komunitas ulama besar Cikoang—Sayyid Muhajir memilih menentang kekuasaan kolonial. Penolakannya untuk tunduk pada VOC Belanda menjadikannya buronan Kompeni Belanda dan memicu fase penting dalam hidupnya: Hijrah.

Fase Hijrah ke Japing-Japing: Membentuk "Kampung Panrita"

Sekitar tahun 1778 M, Sayyid Muhajir memulai perjalanan hijrahnya dari selatan (Laikang dan Bajeng). Beliau menyusuri pesisir utara Maros hingga akhirnya menetapkan Japing-Japing, Pangkep, sebagai tempat pengasingan dan titik perlawanan baru.

Tujuan hijrah ini ganda: mengamankan diri dari kejaran Kompeni sekaligus merintis Kampung Panrita (Kampung Cendekiawan) di Japing-Japing. Melalui upaya ini, beliau menanamkan benih tradisi keulamaan yang kokoh, jauh dari intervensi kolonial.

Intan Daeng Riolo: Simpul Kekerabatan di Pangkep

Dalam misinya membentuk komunitas baru yang mandiri secara spiritual, Sayyid Muhajir memiliki banyak istri dan anak. Istri yang paling signifikan dan menjadi pilar penting di Japing-Japing adalah Intan Daeng Riolo, seorang perempuan asli dari Japing-Japing.

Dari pernikahan dengan Intan Daeng Riolo inilah, lahir tiga putra yang sangat berpengaruh dan meneruskan warisan keulamaan dan keberaniannya:

  1. Sayyid KH. Jumaleng Daeng Sirua (Tuanta’ DG. Maudu): Ulama besar yang mewarisi semangat perlawanan sang ayah. Ia dijuluki "Bangkasa Kebonna Japing-Japing" (Benteng Perlawanan dari Kampung Japing-Japing) dan kelak menikahi Sitti Khadija (cucu Raja Bone XXII).

  2. Sayyid KH. Muhammad Adam Daeng: Tokoh ulama berpengaruh yang memutuskan menetap, wafat, dan dimakamkan di Mekah, menjadi guru bagi keponakannya (KH. Muhammad Shiddiq).

  3. Sayyid Daeng Maroa: Populer dengan sebutan Petta Imam Japing-Japing, yang menunjukkan peran kepemimpinan spiritual lokal yang diwarisinya.

Japing-Japing: Peleburan Tradisi Keulamaan

Japing-Japing kemudian berkembang menjadi pusat spiritual melalui beberapa fase hijrah:

  • Fase Sayyid Muhajir (Bajeng): Menanamkan akar silsilah Sayyid dan tradisi perlawanan.

  • Fase Ulama Lain: Menyusul setelahnya, seperti dari Galesong, Takalar (yang menurunkan Panrita), dan ulama seperti Ince Mappa Tunikabusungi Bin Ince Ahmad Tunikabusungi, yang semakin memperkaya tradisi keulamaan di sana.

Meskipun Sayyid Muhajir wafat dan dimakamkan di Desa Limbua, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep, warisan spiritual dan keberaniannya berlanjut secara utuh. Keturunan ulama Panrita Japing-Japing, yang dipimpin oleh putra-putranya, memastikan Japing-Japing menjadi situs yang memadukan darah raja, pejuang, dan ulama, menjadi benteng spiritual yang tak lekang oleh zaman.

Identitas dan Garis Keturunan Ulama

​Sayyid Muhajir memiliki nama lengkap Sayyid Muhajir Bin Ja'far Shadiq, yang menegaskan silsilahnya sebagai keturunan Sayyid (garis keturunan Nabi Muhammad SAW) dan berasal dari komunitas ulama besar Cikoang.

​Dalam misinya yang penuh risiko dan perlawanan, Sayyid Muhajir memiliki banyak istri dan anak. Salah satu istrinya yang paling penting dan berpengaruh di Pangkep adalah intan Daeng Riolo, seorang perempuan dari Japing-Japing. Dari pernikahan ini, lahirlah tiga putra yang sangat berpengaruh dan meneruskan warisan keulamaan serta keberanian sang ayah:

  1. Sayyid KH. Jumaleng Daeng Sirua: Ulama besar yang menggantikan peran ayahnya. Beliau dikenal sangat pemberani dan dijuluki "Bangkasa Kebonna Japing-Japing" (Benteng Perlawanan dari Kampung Japing-Japing).
  2. Sayyid KH. Muhammad Adam Daengto Adam Merupakan Ulama Berpengaruh Wafat dan dimakamkan di Mekah
  3. Sayyid Daeng Maroa: Populer dengan sebutan Petta Imam Japing-Japing.

Fase Hijrah dan Pembentukan Komunitas Panrita

​Perjalanan leluhur ulama Panrita (cendekiawan) di Japing-Japing Pangkep tidak terjadi dalam satu waktu, melainkan melalui beberapa fase strategis:

  1. Fase Pertama (Laikang & Bajeng): Sayyid Muhajir Raja Laikang dan Raja Bajeng ke-13, yang menolak tunduk pada VOC Belanda.
  2. Fase Kedua (Japing-Japing, sekitar 1778 M): Ini adalah titik penting ketika Sayyid Muhajir hijrah dari selatan, menusuri pesisir utara Maros, hingga akhirnya menetap di Japing-Japing, Pangkep sementara waktu dan beranak pinang disana. Beliau mengasingkan diri dari kejaran komponi Belanda sekaligus merintis Kampung Panrita di sana, tempat keturunannya (termasuk putra-putra Ulama yang Hebat dari intan Daeng Riolo) beranak pinak dan menjadi ulama besar.

Fase Ketiga dari Galesong Kab.Takalar.

​Setelah fase Muhajir, muncul lagi gelombang hijrah ulama berikutnya dari Galesong yang juga hijrah dan menetap di Japing-Japing Pangkep. Mereka juga menurunkan para Panrita yang terkenal pada eranya.

​inilah asal-usul ulama Panrita Japing-Japing ini menjadikan dua nama sebagai acuan utama: Sayyid Muhajir Bin Sayyid Ja'far Shadiq dan Ince Mappa Tunikabusungi Bin Ince Ahmad Tunikabusungi. Keduanya adalah pilar yang membentuk tradisi keulamaan yang kokoh di Japing-Japing, Pangkep.

​Sayyid Muhajir wafat di Desa Limbua, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep, namun warisan spiritualnya terus hidup melalui keturunan ulama Panrita Japing-Japing Pangkep.



No comments

Powered by Blogger.