jabaktangan.com


I Sumaele Karaeng Bontolangkasa Raja Gowa ke.28 Hijrah ke Japing-japing Pangkep Melawan Voc Belanda

 

                                                               ( Gambar Hanya Ilustrasi )


History Singkat tentang Raja Gowa ke-28 dan Panglima Perangnya yang berdarah Minangkabau.

Kapal Phinisi Menuju Perlawanan: Hijrah I Sumaele Karaeng Bontolangkasa ke Kampung Japing-Japing Pangkep.

Pada Tahun 1779 adalah tahun yang sarat ketegangan di Sulawesi Selatan. Di bawah tekanan Kompeni Belanda yang kian mencengkeram, Sultan Abdul Hadi dari Gowa, dengan nama takhta lengkap I Mannawarri I Sumaele Karaeng Bontolangkasa Karaeng Mangasa Sultan Abdul Hadi Tumenanga ri Lambusu'na, mengambil keputusan tegas dan bersejarah: melanjutkan perang di medan baru. Perjalanan itu adalah sumpah baru, dimaknai sebagai Hijrah Perlawanan.

Sang Sultan tidak sendiri. Di sisinya, berdiri kokoh sosok Panglima Perang yang karismatik dan cerdik, Ince Ahmad iyakamabassung Daeng Mangembei Bin Ince Labbe. Sebuah perpaduan kekuatan yang unik; seorang Raja Bugis-Makassar yang berjiwa pejuang, didampingi oleh seorang panglima yang darahnya mengalir dari ranah Minangkabau, membawa serta kearifan taktik dan keberanian dari Nusantara Barat.

Pelayaran Sunyi dari Tallo

Di bawah selimut kegelapan malam, rombongan rahasia itu bergerak. Mereka tidak menempuh jalur darat yang rawan pengintaian, melainkan memilih jalur laut, lambang kebesaran maritim Gowa. Sebuah kapal phinisi gagah, dihiasi layar putih yang berbisik ditiup angin, menjadi bahtera perlawanan.

Kapal itu perlahan menyusuri Sungai Tallo, meninggalkan pusat kekuasaan Gowa yang kini terancam. Setiap kibasan layar adalah isyarat perpisahan dengan masa lalu, dan setiap ombak adalah janji untuk masa depan yang merdeka. Panglima Ince Ahmad, dengan kewaspadaan seorang pelaut ulung dan prajurit teruji, memimpin navigasi dan menjamin keamanan pasukan yang ia pimpin.

Pertempuran di Kampung Japing-Japing

Tujuan mereka adalah kampung Kampung Japing-Japing di Pangkep, sebuah benteng alam yang strategis, dipandang sebagai markas yang ideal untuk menyusun kekuatan kembali. Sesampainya di Kampung Japing-Japing, Kompeni Belanda tidak tinggal diam. Mereka melancarkan serangan, mencoba mematahkan semangat perjuangan yang baru bersemi.

Namun, di bawah komando taktis Panglima Ince Ahmad dan semangat membara yang dipimpin langsung oleh Sultan Abdul Hadi, pasukan Gowa menunjukkan keperkasaan mereka. Pertempuran sengit terjadi. Strategi Panglima Ince Ahmad yang lincah dan berani berhasil mengacaukan barisan Kompeni.

Misi mereka berhasil! Pasukan Kompeni Belanda berhasil dipukul mundur, terpaksa lari hingga ke wilayah Segeri, Pangkep. Kemenangan di Kampung Japing-Japing ini menjadi pukulan telak bagi arogansi Kompeni dan menaikkan moral perlawanan di seluruh wilayah.

Saksi Bisu Keberanian

Sayangnya, perjuangan itu menuntut harga yang mahal. Kampung Japing-Japing menjadi saksi bisu, bukan hanya atas kemenangan, tetapi juga pengorbanan suci. Di tanah Pangkep inilah, pahlawan-pahlawan itu menutup mata.

Sultan Abdul Hadi Tumenanga ri Lambusu'na (yang wafat di Lambusu'), bersama Panglima Perang setianya, Ince Ahmad iyakamabassung Daeng Mangembei, dan para prajurit pemberani mereka, akhirnya dikebumikan di Kampung Japing-Japing. Mereka beristirahat, menjadi penjaga abadi dari tanah yang mereka perjuangkan.

Kini, nama besar Sang Sultan atau Karaeng Bontolangkasa, diabadikan sebagai nama sebuah wilayah yang menjadi tonggak perlawanan terakhirnya: Kelurahan Bontolangkasa, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep. Sebuah pengingat abadi bahwa di tahun 1779, semangat perlawanan Gowa, dipimpin oleh seorang Sultan pemberani dan Panglima berdarah Minangkabau, pernah mengalahkan tirani Kompeni di tepi laut Sulawesi Selatan.


No comments

Powered by Blogger.