jabaktangan.com


ince Ahmad Panglima Perang Raja Gowa ke.28 I sumaele Karaeng Bontolangkasa

                 ( Gambar Hanya Ilustrasi )
 

ince Ahmad Iyakamabassung Daeng Mangembei: Panglima Perang Gowa, Pejuang di Perantauan, dan Warisan Sakral di Japing-Japing

Dalam catatan sejarah Kerajaan Gowa, nama Ince Ahmad Iyakamabassung Daeng Mangembei Bin Ince Labbe tercatat sebagai salah satu panglima perang paling disegani di masanya. Ia menjadi benteng pertahanan sekaligus tangan kanan Raja Gowa ke-28, yaitu I Mannawarri I Sumaele Karaeng Bontolangkasa Karaeng Mangasa Sultan Abdul Hadi Tumenanga ri Lambusu’na, pada masa ketika kekuatan Kompeni Belanda kian menekan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan.

Sebagai panglima perang, Ince Ahmad dikenal karena kecerdikannya dalam strategi tempur, keberaniannya di medan laga, serta kesetiaannya yang tak tergoyahkan kepada sang raja dan rakyat Gowa. Ketika situasi kerajaan mulai genting, ia bersama Raja Gowa mengambil langkah besar — berhijrah suatu temapat atau pa'rasangan yang saat ini bernama Japing-Japing Pangkep, sebuah daerah yang kemudian menjadi saksi sejarah perjuangan terakhir mereka.

Dengan perahu phinisi yang ditungganginya Ince Ahmad dan rombongan kerajaan menyusuri Sungai Tallo, menembus arus deras dan pesisir laut hingga ke Kampung Japing-japng Pangkep, membawa semangat perlawanan dan harapan baru. Di tanah perantauan itu, setelah sampai dengan tujuan Ince Ahmad memimpin pasukan Gowa dan beristirahat sejenak dan kemudian mulai menyerang melawan Kompeni Belanda hari demi hari, hingga berhasil memukul mundur musuh sampai ke Segeri, Pangkep. Perlawanan itu menjadi simbol keteguhan hati Gowa dalam mempertahankan kedaulatan dan kehormatan bangsanya.

Namun, perjuangan panjang itu akhirnya mengantarkan sang panglima pada akhir hayatnya. Ince Ahmad wafat dan dimakamkan di Japing-Japing Pangkep berdekatan dengan Rajanya di tanah tempat ia dan pasukannya mengukir sejarah. Ia meninggalkan jejak perjuangan, semangat, dan warisan yang tak ternilai bagi generasi sesudahnya.

Salah satu peninggalan paling berharga darinya adalah sebuah Baju perang, Badik, dan pedang pusaka (Sapukala) — senjata sakral yang menjadi simbol keberanian, kesetiaan, dan kehormatan seorang panglima perang Gowa. Pedang (Sapukala) pusaka ini pernah disaksikan langsung oleh Sudirman, S.Sos., M.Si., Daeng Haruna alias Diman, seorang pegiat budaya sekaligus keturunan langsung dari Ince Ahmad Iyakamabassung Daeng Mangembei. Pedang (Sapukala) tersebut di simpan oleh salah satu Tokoh Pemuda pegiat budaya Lokal di Japing-japing yang di simpan dalam petih dengan kain merah.

Dalam setiap kesempatan, Diman berpesan agar pedang pusaka Sapukala tersebut dijaga dan dirawat sebaik mungkin. Ia menegaskan bahwa pusaka itu bukan sekadar benda tua, tetapi bukti sakral dari sejarah perjuangan leluhur kita. Menurutnya, Sapukala adalah titipan mulia dari Ince Ahmad untuk seluruh anak cucunya, simbol persatuan dan identitas keluarga besar pewaris Gowa. Karena itu, Diman berharap agar pusaka tersebut tidak jatuh ke tangan orang yang salah, melainkan tetap berada dalam lindungan keluarga dan dijaga sebagai warisan suci yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Kini, anak-cucu keturunan Ince Ahmad masih banyak ditemukan di Japing-Japing, Pangkep. Mereka menjadi penerus nilai-nilai luhur yang diwariskan: keberanian, kesetiaan, dan cinta tanah air.

Nama Ince Ahmad Iyakamabassung Daeng Mangembei pun abadi dalam sejarah dan ingatan masyarakat — bukan hanya sebagai panglima perang Kerajaan Gowa, tetapi juga sebagai penjaga kehormatan dan simbol warisan budaya yang sakral bagi seluruh keturunannya.


No comments

Powered by Blogger.